Kedaulatan Rakyat, Rabu tanggal 29 April 2009 halaman 9 memberitakan : untuk mengusir sekaligus membentengi kawasan hutan Nusakambangan Cilacap dari penduduk liar yang membuat rusaknya kawasan hutan tersebut, Menkum-HAM mengusulkan untuk melepaskan hewan ganas sejenis harimau. Ini didasarkan pada alasan karena upaya razia penduduk yang dilakukan selama ini tidak membuat jera.
Sebagai rakyat, saya terhenyak membaca berita tersebut. Bagaimana tidak? Pertama, pemikiran atau usulan itu mencerminkan sebuah pemikiran yang dangkal dan kerdil; karena tidak mengena pada substansi penyebab masuknya penduduk liar ke dalam kawasan hutan Nusakambangan, yang tidak lain adalah masalah kemiskinan. Kalau para penyelenggara negara ini dapat menjamin setiap warga negara mendapat akses terhadap pekerjaan dan memperoleh penghasilan yang cukup untuk hidup layak, tidak akan terjadi penduduk liar masuk kawasan hutan Nusakambangan. Kedua, pemikiran atau usulan itu, jika dibaca dengan versi lain, dapat mencerminkan tindakan melanggar HAM : penduduk liar memaksa masuk kawasan hutan Nusakambangan, bunuh!
Belum habis kekagetan saya akan berita usulan Menkum-HAM tersebut, stasiun-stasiun TV memberitakan dugaan keterlibatan Ketua KPK, Antasari Azhar, dalam kasus pembunuhan Direktur PT PRB, Nasrudin Zulkarnaen. Saya semakin tidak mengerti ketika Kedaulatan Rakyat, Sabtu 2 Mei 2009 memberitakan Antasari sebagai tersangka pembunuhan itu. Dan dari pemberitaan yang ada, ditengarai pembunuhan dilakukan karena masalah perempuan (Antasari merebut isteri ketiga Nasrudin) atau karena masalah vonis korupsi yang tidak memuaskan Nasrudin (sebagai pelapor Nasrudin berpendapat seharusnya ada beberapa pihak yang dapat terkena, tetapi kenyataannya hanya Direktur Keuangan saja yang ditindak) —– lihat lagi tulisan dalam blog ini “KORUPSI” —–
Sastri (1952, — lihat tulisan halaman : “VIRTUE” —) mendefinisikan virtue sebagai nilai-nilai keutamaan dan nilai-nilai dasar kehidupan. Pemberitaan media cetak dan elektronik selama lima hari terakhir ini seolah meyakinkan kepada saya bahwa sebagian dari petinggi negeri ini sudah tidak memiliki virtue. Apakah ini disebabkan oleh kehidupan dan pendidikan yang menuntut orang menjadi cerdas tanpa mempedulikan landasan : moral, etika, dan budi pekerti ?
Duh Gusti ingkag murbeng dumadi, Ya Allah Ya Rabbi, sudah tidak adakah dalam daftarMu orang baik di negeri ? Mengapa Engkau berikan ijin dan kesempatan bagi mereka menjadi petinggi negeri ?
(didalam pikiran saya menggambarkan, ditempatNya, Tuhan tertawa dan berkata : emang Gue pikirin, yang milih kan kalian semua, manusia !!!)
Komentar Terakhir